{"id":2663,"date":"2025-04-24T01:58:26","date_gmt":"2025-04-24T01:58:26","guid":{"rendered":"https:\/\/revisi.online\/novel\/?p=2663"},"modified":"2025-04-24T01:58:26","modified_gmt":"2025-04-24T01:58:26","slug":"tampilkan-menu-9","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/?p=2663","title":{"rendered":"Tampilkan menu"},"content":{"rendered":"\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/?novel_id=genius-martial-arts-trainer&amp;chapter_id=chapter-276\">&nbsp;Tempat Sampah Baru<\/a><\/h5>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-276\"><\/a><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/\">Novel<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>\u00a0<a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer?novel_id=genius-martial-arts-trainer&amp;chapter_id=chapter-276\">Pelatih Bela Diri Jenius<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-276\">\u00a0Bab 276:<\/a><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\">Pelatih Bela Diri Jenius<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-276\">Bab 276:<\/a><\/h2>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-275\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-277\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><a class=\"pf-br-icon\" href=\"https:\/\/pubfuture.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/s3.pubfuture.com\/favicon.ico\" alt=\"Iklan oleh Pubfuture\"\/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p>Nokangho<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak Mu-gyeong mengetahui bahwa pembunuh yang melukai para tetua Shaolin adalah Kepala Salmak, ia memendam sebuah pikiran.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia ingin menghancurkan bajingan itu dengan tangannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Di satu sisi, kematian Hye-gwan Sasook adalah karena dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya karena markas mereka terbongkar, banyak pembunuh dikirim untuk melancarkan serangan mendadak tanpa henti.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena Hye-gwan meninggal karena pria itu, hanya dengan mencabik-cabiknya, Mu-gyeong dapat menenangkan jiwa Hye-gwan.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, seberapa pun ia meningkatkan indranya, ia tidak dapat menemukan keberadaan Pimpinan Salmak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAduh\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Sasook lainnya menjadi korbannya, menderita luka serius.Masalahnya bukan hanya fakta bahwa mereka menjadi korbannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan tiga orang yang terluka parah, pertempuran semakin berbalik melawan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengikut Shaolin lainnya juga menjadi bingung dalam menghadapi para pembunuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya karena jumlah mereka yang berkurang.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak dapat mengambil tindakan berani karena mereka tidak tahu dari mana musuh yang sulit ditangkap itu akan menyerang.<\/p>\n\n\n\n<p>Mendera!<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah-tengah ini, darah berceceran di wajah Mu-gyeong saat ia menghancurkan kepala seorang pembunuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Dorongan untuk membunuh muncul dalam dirinya, membuatnya ingin menghabisi semua pembunuh, termasuk Pimpinan Salmak yang hadir di sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, Mu-gyeong menggigit lidahnya dengan keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi sebagian orang, rasanya mungkin seperti logam, tetapi untuk beberapa alasan, darah terasa manis baginya. Rasa sakit yang hebat yang menyertainya menjernihkan pikiran Mu-gyeong.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin karena dia sudah kembali tenang, Mu-gyeong menyusun rencana.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Bisakah saya melakukannya?&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun dia memikirkannya, itu adalah langkah yang sangat berisiko.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika dia melakukan kesalahan sekecil apapun, hal itu bisa membahayakan sekutunya alih-alih menangkap musuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun setelah menggelengkan kepalanya dengan kuat, Mu-gyeong menguatkan dirinya dan mengirimkan pesan telepati kepada Mu-jin.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah melihat Mu-jin mengangguk, Mu-gyeong mengeluarkan seluruh sisa energi internalnya dari dantiannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Energi internal yang besar mengalir melalui seluruh titik akupuntur tubuhnya dan mulai dengan cepat membentuk tetesan air.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun Mu-gyeong memiliki lebih banyak energi internal dibandingkan dengan rekan-rekannya, itu tidak cukup untuk menggunakan Teknik Penyu Emas secara bebas.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, dalam pertempuran terakhir, dia menghabiskan energi internalnya dan akhirnya menggunakan Teknik Penyerapan Darah Surgawi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Mu-gyeong tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama kali ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku akan mengikatnya saja. Kalau aku bisa melakukannya, Mu-jin akan menyelesaikan sisanya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Rencana yang dibuat Mu-gyeong adalah sesuatu yang dapat dipikirkannya karena dia memercayai Mu-jin.<\/p>\n\n\n\n<p>Menguras seluruh tenaga dalamnya, Mu-gyeong berhasil menciptakan lebih dari seratus tetesan emas.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu jumlah yang luar biasa dibandingkan dengan sekitar dua puluh yang biasa ia buat untuk menghemat tenaga dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin karena banyaknya tetesan emas yang mengelilingi Mu-gyeong, bahkan para pembunuh Salmak ragu untuk menyerangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu berarti\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>Memotong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAduh\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Musuh sedang mengincar prajurit Shaolin lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan saat Kepala Salmak menerjang dengan pedang pendek untuk menyerang,<\/p>\n\n\n\n<p>Suara mendesing!<\/p>\n\n\n\n<p>Tetesan emas yang tak terhitung jumlahnya yang diciptakan oleh Mu-gyeong terbang menuju tempat pedang pendek itu muncul.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, sebelum tetesan emas itu bisa sampai, pedang pendek itu menghilang lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-gyeong juga telah mengantisipasi hal ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Bagian yang sebenarnya dimulai sekarang.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil mengingatkan dirinya sendiri, Mu-gyeong menyebarkan tetesan emas ke segala arah tepat setelah mereka mencapai tempat pedang pendek itu muncul.<\/p>\n\n\n\n<p>Seolah-olah granat modern meledak, menyebarkan debu dan pecahan ke mana-mana.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika musuh bersembunyi, ia akan mengungkap posisinya dengan menyerang dari segala arah.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah kesimpulan Mu-gyeong.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun ada masalah yang signifikan dengan metode ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya Pimpinan Salmak dan para pembunuh saja yang ada di tempat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada juga Sasook yang terluka dan tiga prajurit Shaolin yang sedang melawan para pembunuh di dekatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Wah!<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih lagi, Mu-jin yang percaya pada Mu-gyeong dan melemparkan dirinya ke arah itu, juga berada dalam jangkauan ledakan tetesan emas tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan fenomena berikutnya adalah pemandangan yang aneh.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa tetesan emas yang menyebar ke segala arah secara halus mengubah lintasannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua tetesan yang terbang ke arah murid Shaolin di dekatnya nyaris mengenai tubuh mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sungguh menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan dalam skenario statis dengan boneka kayu, akan sulit untuk mencapai ketepatan ini. Dan sekarang, semua orang berada di tengah pertempuran.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-gyeong meramalkan pergerakan para pengikut Shaolin berdasarkan tindakan mereka dan mengendalikan semua tetesan emas sesuai dengan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Memprediksi pergerakan para tetua Shaolin sambil mengendalikan tetesan emas yang tak terhitung jumlahnya membutuhkan konsentrasi tinggi, membuat Mu-gyeong merasa otaknya seperti terbakar.<\/p>\n\n\n\n<p>Menetes.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat Mu-gyeong merasakan hidungnya berair karena beban mental,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Beruntungnya itu Mu-jin.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Dia berpikir dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi pula, dia tidak perlu mengendalikan tetesan yang menuju ke Mu-jin.<\/p>\n\n\n\n<p>Menabrak!<\/p>\n\n\n\n<p>Lima tetesan emas bertabrakan dengan Teknik Kura-kura Emas Mu-jin, menimbulkan suara keras, tetapi Mu-gyeong tidak peduli.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia yakin Mu-jin tidak akan terluka oleh tetesan emasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan manuver berisiko Mu-gyeong dalam menguras energi internalnya membuahkan hasil.<\/p>\n\n\n\n<p>Di salah satu ruang yang ditutupi oleh banyak tetesan emas,<\/p>\n\n\n\n<p>Dentang!<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah pedang pendek muncul entah dari mana, menangkis tetesan emas yang datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja, pedang pendek itu menghilang begitu saja, tapi\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKena kau!! Dasar bajingan!!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin sudah ada di sana, mengayunkan tinjunya.<\/p>\n\n\n\n<p>* * *<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Mu-gyeong pertama kali menciptakan sejumlah besar tetesan emas,<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin tidak dapat memahami apa yang direncanakan Mu-gyeong.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, setelah memutuskan untuk mempercayai Mu-gyeong, Mu-jin meninggalkan Sasook yang dijaganya di Mu-gung dan mempersiapkan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Memotong!<\/p>\n\n\n\n<p>Dan pada saat itu murid itu jatuh ke pedang pendek musuh,<\/p>\n\n\n\n<p>Saat Mu-gyeong menembakkan tetesan emas, Mu-jin melemparkan dirinya ke arah itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyaksikan kejadian itu, Mu-jin tidak dapat menahan diri untuk mengumpat dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Mu-gyeong, dasar bajingan gila!!&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Kutukan ini memiliki arti yang berbeda dari ejekan biasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebenarnya, Mu-jin juga telah mempertimbangkan metode ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya adalah dia meninggalkannya karena hal itu juga dapat menyapu bersih sekutu mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin bertanya-tanya apakah Mu-gyeong telah kehilangan dirinya karena balas dendam setelah melihat metodenya yang mengabaikan keselamatan sekutu mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi apa yang dilihatnya selanjutnya sungguh di luar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;\u2026Orang gila.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah-tengah tetesan emas yang tak terhitung jumlahnya yang menyebar, mereka dengan tepat menghindari mengenai para biksu Shaolin.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian qi yang demikian tepat merupakan bakat di bidang yang tidak akan dapat dicapai Mu-jin bahkan dengan latihan selama puluhan tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, kenyataan bahwa tetesan emas yang terbang ke arahnya tidak menyimpang dari jalurnya terasa aneh.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang diharapkan Mu-gyeong, Mu-jin mengabaikan pecahan tetesan emas dan menyerang ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat setelah itu, dia melihat pedang pendek musuh muncul dari udara tipis, menjatuhkan tetesan emas.<\/p>\n\n\n\n<p>Suara!<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin menyebarkan energi Langkah Seratus Bayangannya lebar-lebar, menargetkan titik di mana pedang pendek itu muncul, dan menyerang.<\/p>\n\n\n\n<p>Memotong!<\/p>\n\n\n\n<p>Pedang pendek itu muncul kembali di udara, dengan mudah memotong qi, tapi\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHehe.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin sudah berada tepat di depan pedang pendek itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemandangan aneh dari bilah pedang bercat hitam yang melayang di udara.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi orang lain, itu akan terlihat seperti teknik pedang, tapi di balik pedang pendek itu\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin mengarahkan tinjunya ke arah tangan tak terlihat yang memegang pedang pendek.<\/p>\n\n\n\n<p>Suara mendesing!<\/p>\n\n\n\n<p>Anehnya, alih-alih menghilang begitu saja, pedang pendek itu malah bergerak ke arah tinju Mu-jin yang datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu adalah upaya untuk memotong tangannya, mengingat itu dapat mengiris kulit dan tulangnya seperti kertas.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, tinju itu hanyalah tipuan sejak awal.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menguasai teknik pertarungan jarak dekat, Mu-jin menarik kembali tinjunya dan menggerakkan telapak tangannya ke arah pedang pendek.<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat sebelum telapak tangannya bisa dipotong oleh pedang pendek, dia dengan cekatan mengubah arah untuk meraih tangan tak kasat mata yang memegang pedang pendek itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun manuvernya berisiko, telapak tangan Mu-jin terpotong ringan oleh pedang tajam itu, dan darah hitam yang diracuni oleh bilah pedang itu mulai mengalir dari telapak tangannya. Namun, Mu-jin melihat ini sebagai keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Darah yang mengalir dari tangannya mengotori tangan musuh yang tak terlihat menjadi merah tua.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa ragu, Mu-jin menarik tangan yang digenggamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berkat kekuatannya yang luar biasa, tubuh musuh yang tak terlihat itu ditarik ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menunggu untuk menyambut musuh yang mendekat adalah pukulan dari tangan Mu-jin yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Bang!!!<\/p>\n\n\n\n<p>Disertai suara ledakan, darah berceceran di udara dari ruang tak kasat mata.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama kemudian, area yang tadinya tak terlihat itu pun kabur dan menampakkan seorang laki-laki berpakaian tidur berwarna hitam.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu pemandangan yang mengerikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah lubang besar menganga di sisinya, dengan darah dan usus tumpah keluar.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Dasar bajingan keras kepala.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin mengerutkan kening saat dia melihat Kepala Salmak, yang memiliki lubang besar di sisinya yang membuatnya mustahil untuk bertahan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya sisi tubuhnya, bahu kanannya juga setengah robek.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan karena tarikan Mu-jin yang merobeknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat Mu-jin memegang tangan kanannya, Kepala Salmak telah mencoba untuk memotong bahu kanannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Buktinya adalah tangan kirinya yang tajam bagai pisau yang telah menancap di bahu kanannya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8216;Dia seperti salamander.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau saja Mu-jin sedikit saja terlambat menarik dan menyerang musuh, dia pasti akan kehilangan musuhnya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun itu hanya skenario hipotetis.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski ada luka menganga di sisinya, Ketua Salmak terus menggerakkan tangan kirinya yang mengiris bahu kanannya, dan Mu-jin membalas serangan mematikan itu dengan tinjunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menabrak!!<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau saja itu adalah pedang pendeknya yang aneh, mungkin hasilnya akan berbeda. Namun, tangan seorang prajurit biasa tidak akan mampu menahan pukulan Mu-jin yang bagai memukul batang besi.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin lalu mengarahkan pukulan terakhirnya ke kepala Kepala Salmak, yang tangan kirinya telah hancur menjadi bentuk yang mengerikan.<\/p>\n\n\n\n<p>* * *<\/p>\n\n\n\n<p>Pertarungan setelah berhadapan dengan Kepala Salmak tidak terlalu sulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan berarti mudah, tetapi menjadi lebih mudah diatasi dibandingkan saat Ketua Salmak hadir.<\/p>\n\n\n\n<p>Empat orang sudah tumbang akibat Kepala Salmak, dan empat orang lainnya tidak dapat ikut bertarung karena sedang merawat yang terluka dan berjaga-jaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan hampir setengah dari pasukan mereka keluar dan semua orang kelelahan, para biksu Shaolin nyaris berhasil menangani para pembunuh yang tersisa tanpa ada korban jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski tak seorang pun meninggal, tidak ada satu pun biksu Shaolin yang tidak terluka di antara mereka yang datang ke sini.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah berhadapan dengan pembunuh terakhir, para biksu Shaolin berjaga-jaga, membaluri diri mereka dengan salep dan perban penyembuh, dan meminum penawar racun untuk mengeluarkan sisa racun dari tubuh mereka sembari mengalirkan qi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat mereka bergantian merawat dan menjaga satu sama lain untuk pulih,<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin menyelesaikan perawatan pertolongan pertamanya dan berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cFiuh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil menghembuskan napas dalam-dalam karena rasa sakit di dada dan telapak tangannya, Mu-jin menoleh untuk melihat Mu-gyeong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c\u2026Apakah kamu baik-baik saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-jin bertanya dengan canggung, tidak seperti biasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEntahlah\u2026 Kupikir aku akan merasa lebih baik setelah membalas dendam, tapi yang kurasakan malah hampa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-gyeong, dengan wajah lelah karena pertempuran sengit, mendesah ringan.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkadang orang mengatakan bahwa balas dendam hanya akan melahirkan lebih banyak balas dendam, dan itu membuat seseorang tidak berbeda dari musuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, balas dendam pada dasarnya memuaskan. Mu-jin percaya bahwa jika seseorang berbuat salah kepada Anda, Anda harus membalasnya dengan cara yang sama, atau bahkan lebih buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ada satu jenis balas dendam yang tidak akan pernah bisa terpenuhi:<\/p>\n\n\n\n<p>Balas dendam atas pembunuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak peduli seberapa besar dendam yang seseorang simpan, orang mati tidak akan kembali.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya merasa sedikit lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mencoba membalas dendam mungkin lebih membantu meredakan racun yang terkumpul dalam hati daripada memendam kebencian dan penderitaan dalam diam.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan ini bukan hanya tentang Mu-gyeong.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu-gyeong, Mu-jin, dan semua biksu Shaolin lainnya, setelah mereka menyelesaikan perawatan mereka, memiliki ekspresi rumit di wajah mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada yang membaca doa sambil menggulung tasbih.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin mereka sedang mengenang kenangan mereka bersama Hye-gwan.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu pemandangan yang aneh.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan hanya sekitar dua puluh orang, mereka telah membersihkan markas Salmak, salah satu pasukan utama, dan mengalahkan Kepala Salmak, yang dikenal sebagai salah satu dari Tujuh Raja.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, alih-alih merayakan pencapaian besar mereka, mereka malah berduka atas orang-orang yang telah pergi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingkatkan pengalaman membaca Anda dengan menghapus iklan hanya dengan&nbsp;<strong>$1<\/strong>&nbsp;!<a href=\"https:\/\/novelbin.com\/remove-ads\">Hapus Iklan Dari $1<\/a><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-275\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-277\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a>Bab laporan<\/a>&nbsp;<a>Komentar<\/a><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/novelbin.com\/contact\">Kontak<\/a>\u00a0&#8211;\u00a0<a href=\"https:\/\/novelbin.com\/privacy-policy\">ToS<\/a>\u00a0&#8211;\u00a0<a href=\"https:\/\/novelbin.com\/sitemap-0.xml\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Peta Situs<\/a>\u00a0&#8211;\u00a0<a href=\"https:\/\/tinyurl.com\/twsjy63t\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Donasi<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/novelbin.com\/b\/genius-martial-arts-trainer\/chapter-276#\"><\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;Tempat Sampah Baru Pelatih Bela Diri Jenius Bab 276: Nokangho Sejak Mu-gyeong mengetahui bahwa pembunuh yang melukai para tetua Shaolin adalah Kepala Salmak, ia memendam sebuah pikiran. Dia ingin menghancurkan bajingan itu dengan tangannya sendiri. Di satu sisi, kematian Hye-gwan Sasook adalah karena dia. Hanya karena markas mereka terbongkar, banyak pembunuh dikirim untuk melancarkan serangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2663","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2663","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2663"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2664,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions\/2664"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/novel.mdtaal-aminii.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}