Riwayat Pekerjaanku

KALIAN tahu kenapa kota ini dinamakan Pontianak? Cobalah tengok peta dunia, lihat nama-nama kota paling eksotis dan terkenal sekalipun, tidak ada yang seganjil nama kota kami. Bahkan kota asal cerita drakula, manusia serigala, atau hantu yang suka loncat-loncat seperti yang kulihat di televisi, tidak ada yang dinamakan kota Vampir atau kota Drakula. Apalagi kota Pocong, Sundal Bolong, seperti judul film-film murahan yang banyak beredar akhir-akhir ini. Bahkan buat nama sepotong jalan saja tidak ada yang mau. Namun, kota ini dinamakan Pontianak. Apa itu pontianak? Tidak lain tidak bukan adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntilanak. Pendiri kota ini, seloroh Pak Tua suatu ketika, tentulah pemuda perkasa turunan raja-raja. Dia harus mengalahkan si Ponti ini saat membangun istananya. Menggidikkan bulu roma mendengar cerita lengkap Pak Tua, apalagi dibumbui ibu-ibu hamil, kengerian si Ponti menculik bayi, malam penuh teror, dan KALIAN tahu kenapa kota ini dinamakan Pontianak? Cobalah tengok peta dunia, lihat nama-nama kota paling eksotis dan terkenal sekalipun, tidak ada yang seganjil nama kota kami. Bahkan kota asal cerita drakula, manusia serigala, atau hantu yang suka loncat-loncat seperti yang kulihat di televisi, tidak ada yang dinamakan kota Vampir atau kota Drakula. Apalagi kota Pocong, Sundal Bolong, seperti judul film-film murahan yang banyak beredar akhir-akhir ini. Bahkan buat nama sepotong jalan saja tidak ada yang mau. Namun, kota ini dinamakan Pontianak. Apa itu pontianak? Tidak lain tidak bukan adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntilanak. Pendiri kota ini, seloroh Pak Tua suatu ketika, tentulah pemuda perkasa turunan raja-raja. Dia harus mengalahkan si Ponti ini saat membangun istananya. Menggidikkan bulu roma mendengar cerita lengkap Pak Tua, apalagi dibumbui ibu-ibu hamil, kengerian si Ponti menculik bayi, malam penuh teror, dan sebagainya. Nah, karena sang pemuda ini bukan saja sakti mandraguna, tetapi juga elok perangainya, dia dengan senang hati memberikan nama kota dengan nama musuh besarnya itu, ”pontianak”—bukan nama­nya sendiri apalagi nama leluhurnya. Mana ada coba, pe­rangai seterpuji itu? Jadilah kota indah kami bernama demikian. Pagi ini entah pagi keberapa ratus ribu sejak si Ponti ber­tekuk lutut, kota kami terlihat sibuk—semakin sibuk saja malah. Aku melangkah menuju mulut gang, yang sekarang dipenuhi anakanak sekolah, karyawan kantor, ibu-ibu, dan bapak-bapak. Arah kanan gang ini akan menuju jalan besar yang telah dipenuhi kendaraan berkepul asap dan opelet tua yang terkentut berisik. Pedagang asongan dan penjaja koran berteriak menawarkan barang. Aku terus berjalan lurus menelusuri gang sepanjang Kapuas. Rumah sempit memadati tepian sungai. Anak-anak asyik mandi. Ibu-ibu tidak peduli mencuci di air keruh. Beberapa tetangga menyapa, aku mengangguk samar. ”Berangkat kerja, Borno?” Aku menyengir, mengiyakan. ”Mana seragam keren kau itu, Borno?” Aku tertawa kecut. ”Gagah sekali kau, Borno. Belum mandi saja sudah segagah ini.” Tetangga bermulut usil lain, yang pagi-pagi sambil mengopi asyik duduk di depan rumah kayunya, ikut berkomentar. ”Tutup mulut.” Aku pura-pura mengacungkan tinju, terus melangkah. ”Berangkat kerja, Borno?” Dua belas langkah berikutnya, suara khas itu menyapa. Andi, teman baikku, sepagi ini sudah berkutat oli dan jelaga mesin. Dia bekerja pada bapaknya yang punya bengkel motor sekaligus cuci salju. Jangan bayangkan seperti bengkel-bengkel keren authorized di jalan protokol Pontianak. Bapak Andi yang seratus persen Bugis hanya memanfaatkan depan rumah sempit mereka. Tampak bekas minyak tumpah, serakan busi, dan perkakas; grafiti hitam-hitam di dinding, umbul-umbul kusam pemberian distributor oli sebagai penanda bengkel, dan etalase seadanya berisi suku cadang. Sementara yang disebutnya dengan cuci salju itu ya snow wash, tapi cuma modal satu mesin pompa plus sabun banyak-banyak. Penduduk gang ini mana tahu kalau itu busa sabun colek? ‘’Ye lah, berangkat kerja.” Aku mengangguk, berhenti sebentar, memperhatikan serakan onderdil motor yang dilepas. Kasus Andi pagi ini menarik, satu motor gagah berwarna hitam terkapar di depannya. ”Sudah berapa kali kau gonta-ganti pekerjaan, Borno. Macam tidak ada tempat yang bisa membuat kau betah.” Bapak Andi yang mengunyah pisang goreng sambil mengawasi anaknya bekerja bertanya menyeringai. Aku mengangkat bahu, tidak berminat menjawab. Seluruh gang juga tahu, kalau ada penghargaan untuk orang yang suka gonta-ganti pekerjaan dua tahun terakhir ini, akulah pemenangnya. ”Ini motor siapa?” Aku ingin tahu. ”Motor kepala kampung. Dikasih temannya dari Kuching. Murah katanya, beli di Malaysia. Tetapi kondisinya rusak.” Andi menyeka pelipis, membuat dahinya tambah hitam. Aku bergumam, mengangguk. Sejenak memperhatikan, lalu aku ter­ingat sesuatu, aku harus tiba di tempat kerja baruku sesegera mungkin. Pak Tua sudah menunggu. Aku pamit pada bapak Andi yang sekarang sibuk menepis-nepis ujung sarung— mungkin ada laba-laba atau serangga jail masuk. Kata pujangga, ”Hidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta.” Setelah Bapak meninggal, sepuluh tahun lalu, ajaib, aku tetap bertahan sekolah hingga SMA. Sebulan lulus dari SMA, setelah sibuk melamar pekerjaan, salah satu pabrik pengelolaan karet yang banyak terdapat di tepian Kapuas menerimaku. Itu tempat bekerja pertamaku, dengan seragam berwarna oranye. Gagah memang. Ibu sampai tertawa melihatku siap berangkat pagi-pagi. Bagi Ibu, tertawa adalah ekspresi rasa senang tertingginya. Aku ikut tertawa bersama Ibu. Sorenya saat aku pulang, Ibu tertawa lagi, kali itu aku hanya menyengir. Bagi Ibu, tertawa juga ekspresi rasa iba tertingginya. Kalian pernah datang ke pabrik pengelolaan karet? Pekerjaan di sana sebenarnya mudah, bal-bal karet hasil sadapan petani bercampur cuka dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali perahu kayu berhiliran dari kebun penduduk di hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran tipis belasan meter. Lembaran itu dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi bagai menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut truk besar, dibawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya. Bau, itulah hal paling memberatkan bekerja di pabrik karet. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah, lebih bau. Radius ratusan meter sudah menyengat, dan aku sialnya persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang. ”Tidak masalah, Borno. Semua pekerjaan baik.” Ibu membesarkan hatiku. ”Aku tahu, Bu. Tetapi tidak semua pekerjaan itu bau.” Aku menggerutu (bukan pada Ibu—mana boleh aku menggerutu padanya?—melainkan pada ember cucianku). ”Haiya, kau jangan dekat-dekat toko kelontongku.” Koh Acong, sebaliknya, melotot mengecilkan hati. Aku bersungut-sungut melempar uang. Koh Acong malah tertawa sambil melempar bungkusan gula pesanan Ibu. ”Woi, kau jauh-jauh sana. Macam mana ini, warungku bisa sepi pengunjung empat puluh hari empat puluh malam.” Cik Tulani ikut-ikutan menyebalkan—padahal aku cuma menumpang lewat di depan warung. Hanya Pak Tua yang menyengir, santai mempersilakanku naik ke atas sepitnya, menumpang menyeberangi Kapuas, pulang ke rumah. Itulah nasib bekerja di pabrik karet, pekerjaan pertamaku lulus SMA dua tahun lalu. Di luar soal bau, bekerja di sana menyenangkan. Pemilik pabrik memperlakukan kami dengan baik. Gaji oke, ada pemeriksaan kesehatan, kadang ada makan siang gratis di kantin pabrik. Top. Sayang, enam bulan di sana, aku dipecat, bersama ratusan karyawan lain.