”Namamu siapa tadi, ya? Borneo?” Itu pertanyaan pemilik pabrik karet saat mewawancaraiku dulu. Cina separuh baya, rambut­nya sepertiga menguban, perutnya separuh gendut, tam­pang­nya pol kebapakan. ”Borno, Pak,” aku memperbaiki. ”Oh, Borno, ya. Nama yang aneh.” Pemilik pabrik tertawa, janggut di dagunya terlihat bergoyang-goyang. Aku ikut tertawa, memasang seringai paling baik. Lima belas menit ditanya-tanya, aku diterima. Disuruh menghadap staf administrasi, diminta menyerahkan fotokopi KTP dan berkas lain. Staf itu menyebutkan gajiku, aku kali ini sungguh tulus menyeringai, tertawa ikhlas. Gajinya bagus. Ternyata ijazah SMAku sakti mandraguna, atau boleh jadi cara bicaraku amat meyakinkan, atau mungkin riwayat hidupku yang ditulis dengan bolpoin warna hitam di atas kertas folio itu tampak mentereng. ”Semoga kau membawa keberuntungan di pabrik ini, Borno. Tanggal lahir kau bagus sekali. Aura wajah dan tubuhmu positif. Semuanya cocok dengan fengsui pabrik.” Esoknya saat aku datang dengan seragam oranye, pemilik pabrik menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum tanggung, baru tahu bahwa aku di­terima bukan karena betapa tingginya kualifikasiku. Aku di­terima begitu saja karena ada ”makhluk” bernama fengsui. Garis keberuntungan yang kubawa itu ternyata keliru. Belum genap hari pertama aku bekerja, tiga omprengan padat merapat ke halaman pabrik. Penumpangnya membawa spanduk, menenteng Toa, berteriak. Dari kisi-kisi pabrik, aku menerka, sepertinya mereka sibuk demo soal lingkungan hidup. ”Pabrik Membawa Bau!”, ”Jangan Buang Limbah ke Sungai Kami!”, ”Usir Pabrik Karet di Tepian Kapuas!” Demikian tulisan di spanduk. Keributan kecil terjadi. Petugas pabrik sibuk membuat tameng. Massa tiga puluh orang itu tiba-tiba menjadi tidak terkendali, ber­teriak-teriak, melemparkan apa saja yang ada di dekat mereka. Sebelum situasi semakin kacau, penyeliaku jail mengeluarkan ember-ember berisi air perasan dari mesin pembuat lembaran karet, me­nyuruh kami menyiramkannya ke pendemo itu. Kocar-kacir­lah mereka. Tampaknya air itu lebih menyeramkan dibanding gas air mata polisi. ”Biasalah. Setahun belakangan mereka sudah sering protes, mengirim surat, minta ganti rugi. Mereka bukan orang sini, entah dari mana, menghasut penduduk sekitar pabrik.” Penyelia menepuk-nepuk ujung baju seragam yang terkena cipratan air kotor. ”Mau bagaimana lagi? Pabrik dipindahkan? Tidak mudah itu. Lagi pula ada puluhan karyawan berasal dari sekitar pabrik, tidak semua keberatan. Kau keberatan dengan bau karet?” Aku tidak berkomentar. Pak Tua pernah bilang, benci atau suka itu relatif. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. Ka­lau perasaan saja bisa menyesuaikan diri begitu hebat, apalagi hidung. Sayangnya, persis di penghujung bulan keenam, tanpa kabar burung, puluhan buruh mendadak dirumahkan. Mesin penggiling karet berhenti. Pabrik tutup total. Padahal, jujur, aku mulai terbiasa dengan bau busuk karet—meski tidak jatuh cinta. Jelas pabrik tutup bukan karena fengsuiku, juga bukan karena aktivis itu, melainkan pemilik pabrik yang berjanggut itu terkena musibah. Krisis dunia, harga karet anjlok bagai meteor jatuh, grafiknya turun bebas. Imbasnya ke mana-mana. Pedagang karet memutuskan memarkir kapal, berhenti membeli bantalan karet di pedalaman. Pabrik pengolahan terpaksa menanggung biaya produksi lebih tinggi dibanding harga jual. Sialnya, ibarat peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pemilik pabrik yang berwajah penuh kebapakan itu kemudian hari kena tipu. Se­puluh kontainer terakhirnya yang dikirim ke Eropa tidak dibayar pembeli. Importirnya kabur membawa dokumen pembayaran. Pabrik tutup. Aku kehilangan pekerjaan. ”Bukankah kau memang tidak suka bekerja di sana? Tidak usahlah pasang wajah masam macam itu.” Salah satu tetangga tertawa, malam-malam saat bermain kartu di balai bambu. ”Yang patut dikasihani itu tauke pabrik. Kudengar dia murah hati pada penduduk sekitar pabriknya. Bangkrut. Kasihannye,” yang lain menimpali. ”Kudengar ada lowongan di syahbandar Pontianak, kau coba saja ke sana, Borno. Siapa tahu cocok,” salah satu tetangga berseru. ”Ah, paling kau cuma jadi kacung, Borno. Disuruh bersih-bersih meja, mengepel lantai, membuat minuman, lantas menunduknunduk bilang selamat pagi,” yang lain mengingatkan. ”Tidak apalah jadi kacung. Tiga tahun bekerja bisalah kau naik pangkat jadi kepala….” ”Ya, kepala kacung,” yang lain memotong. Balai bambu dipenuhi gelak tawa. Aku tidak mendengarkan, membanting kartuku yang sempurna ke tikar pandan. Tetangga lain ber-ah sebal, giliranku yang tertawa sambil menunjuk teko plastik. Mereka dengan wajah masam terpaksa menenggak gelas air putih berikutnya sampai kembung, hukuman kalah. Bermula dari percakapan sambil main kartu bermandikan cahaya bulan malam dua belas, urusan syahbandar Pontianak ini ternyata panjang. Itu pekerjaan keduaku, kusut seperti benang berpintal. *** Esoknya, aku memberanikan diri berangkat ke kantor syahbandar Pontianak. Satpam gerbang menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki. Sejak kecil aku selalu grogi diperhatikan. Aku bergegas melirik name tag di dadanya, mengangguk, lantas sesopan mungkin berkata, ”Eh, maaf, saya dengar ada lowongan di sini, Pak Mardud. Saya hendak melamar.” Ini resep rahasia milik Pak Tua. Kalian bisa tiru kapan saja, manjur nan mujarab. Jika kalian berurusan dengan polisi lalu lintas atau satpam galak tanpa senyum, sapalah dia dengan menyebut namanya, bersahabat, maka urusan jadi gampang seketika. ”Karena mereka terkadang sudah kesal dari sananya, Borno. Seharian atau semalaman bosan berjaga, menghadapi orang-orang. Kau lurus-lurus saja bisa mengundang masalah, apalagi kalau kau memang membawa masalah. Nah, dengan menyapa nama, itu mem­buat mereka merasa dihargai setelah kesal sepanjang hari. Percayalah. Itu selalu berhasil.” Bukan main! Pak Mardud bukan hanya memasang wajah lebih bersahabat usai dua detik aku menggunakan jurus sakti Pak Tua, dia bahkan tertawa lebar. ”Kau tahu ruangan pendaftarannya, Nak?” ”Tidak tahu, Pak Mardud.” ”Kau lihat pintu masuk lobi sana? Ya, yang itu. Nah, di dalamnya ada lorong, kau ikuti, nanti ada pintu dengan papan nama ‘Tata Usaha’. Serahkan lamaran kau di sana.” Aku mengangguk-angguk. ”Terima kasih banyak, Pak Mardud.” Ketika aku hendak melangkah masuk, Pak Mardud memanggil. ”Sebentar. KTP kau tolong ditinggalkan, Nak.” Aku mengangguk. ”KTP? Oh, baiklah, Pak Mardud.” Untuk keempat kalinya aku sengaja benar menyebut nama satpam ini dengan baik dan tepat, lugas nan jelas. Aku meraih dompet, mengeluarkan KTP-ku, dan memberikannya kepada Pak Mardud. Satpam itu menukar KTP-ku dengan name tag ber­tulis­kan ”Visitor”. Sambil memasang name tag, aku hendak melangkah melintasi halaman syahbandar yang dipenuhi kontainer. ”Sebentar. Kau tanda tangan di sini.” ”Oh, tanda tangan. Baiklah, Pak Mardud.” Aku hendak melangkah lagi melintasi halaman syahbandar. ”Sebentar, Nak.” ”Ya, Pak Mardud?” Aku menoleh. Apa lagi kali ini. ”Hanya mau kasih tahu, namaku bukan Mardud, ya. Ini seragam milik temanku, kebetulan tadi pagi seragamku kotor, jadi aku meminjam seragamnya. Namaku Amir. Panggil saja Pak Amir.” Aku bengong. Satpam itu santai sambil bersiul pelan, menulis namaku di buku besar tamu. Saat tiba di ruang Tata Usaha, kasus di pintu gerbang syahbandar dengan cepat kulupakan. Di dalam ruangan terlihat seseorang dengan seragam rapi, tampaknya salah seorang pejabat syahbandar. Dia sedang mengomel panjang lebar, dikelilingi staf lainnya yang kadang mengangguk-angguk, kadang ikutan memasang wajah marah, bersimpati. Seru sekali. ”Aku minta mulai besok pemeriksaan diperketat. Semua kapal yang merapat di Pelabuhan Pontianak harus diperiksa. Tidak ada pengecualian.” ”Baik, Pak. Segera dilaksanakan.” Salah satu staf sibuk mencatat. ”Untung Bapak melakukan inspeksi. Ini tangkapan besar lima tahun terakhir, Pak. Kontainer ilegal berisi lembaran karet.” Staf yang lain bergegas memasang wajah kagum. Sambil menguping, aku menyeringai melihat ekspresi mereka, teringat wajahku dulu saat diwawancarai pemilik pabrik karet. Aku kenal sekali, itu raut wajahku dulu, sok paham, sok setuju. ”Besar sih besar, tapi tangan dan bajuku terkena cipratan air karet saat kontainer itu dibuka. Sialan, bau sekali.” Pejabat itu menunjukkan lengannya. ”Aku memang sudah berganti baju, tangan ini sudah kucuci dua-tiga kali, tetap tidak hilang-hilang baunya sejak kemarin.” Kalau diizinkan, dilihat dari ekspresi wajah mereka, beberapa staf rasanya hendak berebut menciumi tangan pejabat itu, merasa­kan bau yang disebut-sebut. Aku menahan tawa. ”Sudah pakai sabun, Pak?” Ada yang kelepasan bertanya bodoh. ”Tentu saja. Aku sudah pakai sampo, detergen, sabun, tetap tidak hilang-hilang.” Pejabat itu mendengus kesal, kembali mengacungkan lengannya yang terkena air karet. Kerumunan mengangguk-angguk, bersimpati sambil pura-pura me­mikirkan jalan keluar. Aku berdeham. ”Eh, saya tahu cara menghilangkannya.” Mereka menoleh. Ramai-ramai menatapku tajam. Aku mengeluh, sekali lagi grogi dipelototi. Jangan-jangan kerumunan ini tempat aku menyerahkan berkas lamaran. Beruntung, sebelum mereka serempak bertanya ”Siapa kau ikut-ikut campur percakapan orang?” pejabat itu lebih dulu bertanya, ”Nah, bagaimana cara menghilangkannya?” Aku menelan ludah. ”Pakai daun singkong, Pak. Daunnya diremukkan, lantas dipakai untuk mencuci tangan yang terkena cipratan air karet.” Pak pejabat itu berpikir sejenak, menatapku tajam. ”Sungguh, Pak. Saya berkali-kali pernah terkena air karet bau… dan berkali-kali juga menghilangkannya dengan cara itu. Selalu manjur.” ”Nah, di mana aku bisa mendapatkan daun singkong sekarang?” pejabat itu berseru. ”Pasar pagi dekat dari sini, Pak. Lima ratus meter. Di sana pasti banyak.” Pejabat itu menoleh ke belakang, berteriak, ”Malih! Mana Malih? Panggil dia kemari!” Yang dipanggil segera merapat, menunduk-nunduk. ”Selamat pagi. Ada yang bisa saya kerjakan, Pak?” ”Kau beli daun singkong di pasar sayur.” ”Daun singkong, Pak?” Malih ragu-ragu. Bukankah selama ini segelas kopi hangat plus roti maryam buatan kampung Arab sudah cukup untuk sarapan pak pejabat? ”Daun singkong, Malih. Segera, tidak pakai lama. Apalagi pakai tanya-tanya.” Malih pun mengangguk takzim. Siap. Aku teringat percakapan saat main kartu dua malam lalu. Tidak salah lagi, Malih ini pastilah kacung yang dimaksud. Menelan ludah dua kali, semoga aku tidak diterima menjadi kacung. Celaka dua belas, meski itu tetap pekerjaan yang mulia (Ibu pernah bilang, ”Bahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia, Borno. Sepanjang kaulakukan dengan tulus.”), aku belum siap kalau disuruh memasang gerak-gerik dan ekspresi kacung sehalus dan semulus Malih. Kabar baiknya? Tidak ada. Berkas lamaranku diterima, aku bahkan siangnya langsung dipanggil wawancara, di ruangan besar pejabat syahbandar itu. Dia tertawa melihatku, bilang betapa manjurnya saranku tadi pagi soal daun singkong, lalu membuka map lamaran milikku. ”Sayangnya kami hanya menerima calon pekerja yang cakap, Borno.” Aku menelan ludah. Itu awal wawancara yang buruk. ”Kau terlalu muda, Nak, baru lulus SMA. Kenapa kau tidak melanjutkan sekolah? Ambil akademi bea cukai misalnya, gajinya alamak sekarang, atau sarjana muda pelayaran, atau bila perlu calon insinyur teknik perkapalan di Surabaya. Kau bisa bekerja di galangan kapal Eropa sana. Jangan tanya penghasilannya. Gadis tercantik di Pontianak yang mata duitan, kau kerling sedikit langsung jatuh hati.” Aku menggeleng perlahan, bilang justru dengan bekerja aku berharap punya cukup uang untuk kuliah. Pak pejabat syahbandar tersenyum lebar. ”Kau tipikal anak muda yang mandiri, Borno. Kau tahu, aku dulu juga begitu, harus bekerja keras agar bisa sekolah. Seumuran kau, aku menjadi kuli di pabrik gula. Serabutan, disuruh ini-itu, kerja rendahan. Kau mau bekerja seperti itu?” ”Mau, Pak. Saya mau mengerjakan apa saja di sini, asal jangan seperti Pak Malih.” ”Pak Malih? Oh, si Malih.” Pak pejabat terbahak. ”Astaga, Borno, di sisi tertentu, ini antara kita berdua saja ya, kau bahkan lebih berharga dibanding staf yang mengerumuniku kemarin.” Demi sopan santun aku ikut tertawa—walau tidak terlalu paham. Pak pejabat menelepon sebentar, menyebut-nyebut namaku, lantas menatapku. ”Jumlah pekerja kasar di syahbandar sudah terlalu banyak, Borno. Orang Jakarta selalu bertanya hal itu setiap rapat bulanan. Tadi aku menghubungi Kepala Operator Feri Kapuas, mereka bisa menampung. Besok pagi kau datang ke sana. Nah, Borno, semoga saat kita bertemu lagi, kau tidak se­kadar memberiku solusi daun singkong, tapi solusi atas urusan yang lebih hebat dari itu.” Pak pejabat mengembalikan map merah, menyalamiku. Ditolak. Aku kecewa. Mau apa lagi? Tetapi setidaknya, aku memperoleh rujukan. Besoknya aku berangkat ke dermaga feri Pontianak. Jadi begini. Selain sepit, lalu lintas penduduk Pontianak menyeberangi Kapuas juga dilayani kapal feri. Tidak sebesar feri yang menyeberangi Selat Bali atau Selat Sunda, tapi kapal feri di sini bisa ditumpangi sepeda motor. Kapasitas penumpangnya juga bisa dua puluh kali sepit. Sekali feri datang, kerumunan di dermaga langsung tersapu habis. Pagi-pagi atau sore-sore saat lalu lintas menyeberangi Kapuas sedang tinggi-tingginya, kapal feri menjadi pamungkas. Jika sepit punya beberapa dermaga kayu di sepanjang kota Pontianak, kapal feri hanya punya satu, di lokasi paling strategis, di tengah kota, dengan dermaga beton permanen. Ke sanalah aku membawa map merah. Mandi pagi-pagi, memakai kemeja terbaik, yang apa daya adalah kemeja kemarin pagi yang buru-buru kucuci siangnya dan kusetrika malamnya. ”Doakan aku sukses, Bu.” Aku mencium tangan Ibu. ”Kau macam mau pergi perang dengan Malaysia saja.” Ibu yang masih menyimpan memori ganyang negara tetangga puluhan tahun silam menyeringai. Aku tertawa, mengucap salam. Aku menumpang perahu tempel Bang Togar menyeberangi Kapuas. ”Kau sebenarnya mau ke mana dengan pakaian rapi macam walikota, hah? Hendak ke kantor syahbandar lagi? Biar kuantar, sekalian mau pulang, mesin sepitku ini terkentut-kentut sejak tadi, khawatir malah mogok di tengah Kapuas. Kasihan penumpangnya,” cerocos Bang Togar. Aku menggeleng. ”Tak ke sana, Bang. Aku mau ke dermaga feri.” ”Dermaga feri? Astaga? Apa pula urusan kau ke tempat itu?” Seringai Bang Togar yang biasanya ramah selalu—karena dia teman dekat almarhum Bapak—langsung terlipat, seketika masam. Aku ragu-ragu menjawab. Ada yang ganjil dengan tampang galak Bang Togar. ”Eh, aku, hendak melamar pekerjaan, Bang.” ”Astaga? Apa kau bilang?” Bang Togar terlonjak dari buritan sepit, hampir terjengkang ke dalam air. Aku takut-takut mengangguk. Bang Togar ini bertubuh besar dan tinggi, berkumis melintang. Dia terkenal sekali. Orangnya ber­wibawa dan berjiwa pemimpin. Konon katanya seluruh penduduk Pontianak kenal dia. Apalagi Bang Togar Ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta). ”Tiga turunan, Borno. Tiga turunan. Kau ingat itu baik-baik.” Bang Togar kasar menunjuk hidungku. Aku tercengang belum mengerti. Apanya yang tiga turunan? Ternyata inilah yang membuat rumit urusan pekerjaan keduaku, bagai benang kusut.